. . . Perjalanan ini...akan mengajari kita untuk belajar mengerti bahwa semua kisah, semua hal, semua peristiwa, air mata, canda, tawa, dan sebuah senyuman... menyimpan pesan yang tak selalu sama... dan tugas kita tak lebih hanyalah belajar untuk bisa memahaminya . . .

Sepenggal catatan hati

Search ?

Memuat...

ANALISIS INVESTASI PUBLIK

A. PROGRAM INVESTASI PUBLIK

Dalam pengertiannya, Investasi merupakan asset yang dimiliki sekarang guna mendapatkan asset pada masa mendatang yang tentu saja dengan jumlah yang lebih besar. Menurut Jones (2004), Investasi sebagai komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih asset selama beberapa periode pada masa mendatang.
Sedangkan investasi publik digunakan untuk pengambilan keputusan untuk mendukung pelaksanaan program, kegiatan, dan fungsi yang menjadi prioritas kebijakan.
Investasi public berkaitan erat dengan penganggaran modal/ investasi. Penganggaran investasi merupakan proses untuk menganalisis proyek-proyek dan memutuskan apakah proyek tersebut dapat diakomodasi oleh anggaran investasi. Selain itu anggaran investasi merupakan pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah asset / kekayaan pemerintah dan selanjutnya akan menambah anggaran rutin untuk biaya operasional dan pemeliharaan, sehingga terdapat hubungan antara anggaran investasi dan anggaran rutin. Tetapi di kebanyakan Negara berkembang anggaran investasi(pembangunan) dan anggaran rutin dipisahkan yang biasa disebut dual budgeting, yaitu pemisahan anggaran investasi dari anggaran rutin.
Dalam praktiknya, terdapat permasalahan yang sulit diselesaikan, antara lain :
a. Memastikan bahwa program investasi public yang diajukan merupakan program yang komprehensif.
b. Memperkirakan pengeluaran yang dibutuhkan di masa yang akan dating.
c. Mengevaluasi relevansi proyek-proyek yang ada.
d. Mengembangkan analisis dan perencanaan untuk pengeluaran investasi dan pengeluaran rutin.
  Sebelum diambil keputusan untuk melakukan investasi, pemerintah terlebih dahulu perlu menentukan kebutuhan investasi yang diperlukan. Untuk menentukan kebutuhan investasi perlu dilakukan evaluasi yang mencakup :

1) Inventarisasi investasi.
2) Inventarisasi investasi memuat daftar nama dan jenis investasi, nilai investasi, kondisi barang modal yang ada saat ini, apakah baik atau buruk.
3) Cakupan layanan dengan tingkat investasi yang ada sekarang.
4) Tambahkan cakupan layanan yang dibutuhkan saat ini dan masa yang akan datang.
5) Evaluasi kelayakan investasi.
6) Kriteria kelayakan investasi meliputi aspek-aspek teknis, social budaya, financial, ekonomi, dan aspek distribusi. Perhitungan kelayakan investasi dapat dilakukan dengan menggunakan alat analisis, seperti : NPV, IRR, ARR, PP (Pay Back Period), Cost Benefit Analysis, dan Cost Effectiveness Analysis.

B. PENENTUAN KEBUTUHAN INVESTASI PUBLIK
Penentuan kebutuhan investasi public berkaitan dengan jumlah anggaran yang akan ditetapkan bagi masing-masing unit organisasi. Analisis yang mendalam sebelum dilakukan investasi sangat penting dilakukan karena investasi public berkaitan erat dengan masalah transparansi dan kewajaran anggaran. Penentuan kebutuhan investasi public terkait dengan dua kegiatan, yaitu peningkatan kuantitas investasi dan peningkatan kualitas investasi.
Ada beberapa cara dalam menggolongkan asal-usul investasi. Salah satu penggolongannya adalah :
1. Investasi penggantian
2. Investasi penambahan kapasitas
3. Investasi baru
Pengeluaran investasi untuk penggantian barang modal mengikuti pola umur manfaat barang modal. Bila umur ekonomi barang modal telah habis, maka perlu pembelian barang modal baru untuk menggantinya. Penilaian investasi publik perlu mempertimbangkan umur teknis dan umur ekonomis dari barang modal yang akan dibeli. Umur ekonomi terkait dengan perkiraan waktu efektif suatu barang modal dapat memberikan manfaat, sedangkan umur teknis terkait dengan kemampuan barang modal dalam memberikan manfaat hingga tidak mampu lagi memberikan manfaat. Jadi, umur teknis suatu barang modal bias lebih lama daripada umur ekonominya. Bila barang modal telah using dan tidak mampu lagi memberikan manfaat, berarti umur teknis barang modal tersebut telah habis.
Investasi penambahan barang modal perlu dilakukan bila terjadi tuntutan peningkatan cakupan pelayanan. Jumlah penambahan unit barang modal ditentukan oleh produktivitas barang modal saat ini ada. Produktivitas barang modal diukur berdasarkan rasio antara input dan output yang dihasilkan. Rasio ini pada dasarnya mencerminkan tingkat efisiensi barang modal yang bersangkutan. Jika suatu barang modal sudah kurang (tidak) efisiensi, sementara terjadi kenaikan cakupan pelayanan yang harus dilakukan pemerintah, maka pemerintah harus mempertimbangkan untuk melakukan investasi penambahan kapasitas.
Investasi dapat juga berupa investasi baru yang belum ada sebelumya. Untuk jenis investasi baru, maka pertimbangan mengenai aspek teknis, ekonomi, sosial-budaya, dan aspek distribusi harus mendapat perhatian lebih besar.

C. ASPEK KELAYAKAN INVESTASI

Dalam perencanaan dan analisis investasi harus mempertimbangkan aspek teknis, social dan budaya, ekonomi dan finansial, serta distribusi. Karena aspek-aspek tersebut satu sama lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
a. Aspek Teknis
  Aspek Teknis merupakan bagian penting dari analisis investasi yang harus dipertimbangkan. Jika suatu usulan investasi sudah tidak layak dilihat dari aspek teknisnya, maka usulan tersebut menduduki prioritas pertama untuk ditolak.
b. Aspek Sosial dan Budaya
  Untuk melaksanakan suatu proyek maka perlu mempertimbangkan implikasi social yang lebih luas dari investasi yang diusulkan. Aspek sosial budaya ini menyangkut pertimbangan pendistribusian pelayanan secara adil dan merata, sehingga mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Aspek sosial budaya mencakup juga aspek legal dan lingkungan. Suatu proyek investasi yang akan dilakukan harus mempertimbangkan aspek legalitas dan dampak lingkungan yang merugikan.
c. Aspek Ekonomi dan Finansial
  Pertimbangan aspek ekonomi meliputi kegiatan menganalisis apakah suatu proyek yang diusulkan akan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pembangunan perekonomian secara keseluruhan dan apakah kontribusinya cukup besar dalam menentukan penggunaan sumber-sumber daya yang digunakan. Aspek financial menerangkan pengaruh-pengaruh financial dari suatu proyek yang diusulkan. Berdasarkan perencanaan anggaran, keputusan-keputusan mengenai efisiensi proyek secara financial, solvabilitas, dan likuiditas perlu dipertimbangkan.
d. Aspek Distribusi
  Keputusan investasi merupakan keputusan yang perlu dikaitkan dengan masalah distribusi pelayanan public secara adil dan merata. Untuk itu perlu diketahui siapa yang akan menerima manfaat atau keuntungan yang dihasilkan dari proyek investasi, dari mana mendapatkan modal untuk melaksanakan proyek, apakah dari public revenue atau oleh individu, apakah terdapat pajak penghasilan atau tidak, apakah proyek dijalankan oleh publik agencies atau oleh individu. Aspek distribusi terkait dengan keadilan dan persamaan kesempatan untuk mendapatkan pelayanan publik (equity dan equality).

D. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI PUBLIK

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis investasi public adalah :
1. Tingkat diskonto yang digunakan
2. Tingkat inflasi
3. Resiko dan ketidakpastian
4. Capital rationing

Tingkat Diskonto

Diskonto (discounting) adalah proses untuk mengkonversi satu atau serangkaian arus pendapatan mendatang menjadi nilai kini. Faktor diskonto adalah nilai kini (present value) dari 1 dolar atau rupiah yang diterima dimasa mendatang .
Dasar pemikiran dari metode diskonto pendapatan ekonomi mendatang adalah nilai dari suatu usaha atau suatu kepemilikan dalam suatu usaha tergantung pada pendapatan mendatang yang akan dihasilkannya, yang didiskonto ke nilai kininya dengan suatu tingkat diskonto yang sesuai. Suatu investasi baru memiliki nilai jika investasi tersebut dapat memberikan pengembalian yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh pendanaan untuk membiayai investasi tersebut.
Perhitungan tingkat diskonto merupakan bagian yang cukup kompleks dalam analisis investasi.Metode Diskonto Pendapatan Ekonomi Mendatang terdiri dari Pembilang dalam metode diskonto pendapatan ekonomi mendatang dan Penyebut dalam metode diskonto pendapatan ekonomi mendatang. Penyebut dalam metode diskonto pendapatan ekonomi mendatang adalah tingkat diskonto (biaya modal). Definisi tingkat diskonto menurut Shannon P. Pratt : In economic terms, a present value discount rate is an “opportunity cost”, that is, the expected rate of return (or yield) that an investor would have to give up by investing in the subject investment-instead of in available alternative investments that are comparable in terms of risk an other investment characteristics. (Pratt, Reilly, & Schweihs, 2000, p.159)
Tingkat diskonto adalah suatu tingkat balikan (rate of return) dalam persen digunakan untuk mengkonversi sejumlah uang yang diterima dimasa mendatang menjadi nilai kini.
Tingkat diskonto dibagi menjadi:
  Biaya ekuitas (cost of equity) untuk model ekuitas
Biaya modal sendiri atau biaya ekuitas terdiri dari:
1) Tingkat bunga bebas resiko (risk free rate)
Tingkat bunga bebas resiko adalah pendapatan yang tersedia (per tanggal penilaian diadakan) dari investasi yang secara umum dianggap sebagai investasi bebas resiko oleh pelaku pasar (contoh: obligasi pemerintah). Tingkat bunga bebas resiko tergantung pada market atau pasar dimana penilaian dilaksanakan. Dengan demikian, jika menilai sebuah perusahaan di luar negeri, menggunakan tingkat bunga bebas resiko yang ada di negara tersebut.
2) Premium resiko, yang mencakup:
• Premi resiko ekuitas secara umum
• Size premium – premi resiko sehubungan dengan besarnya perusahaan
• Specific company risk premium – premi resiko yang sifatnya unik bagi sebuah perusahaan
Premi resiko adalah perbedaan antara tingkat pendapatan yang diharapkan nvestor saat melakukan investasi yang beresiko dengan tingkat pendapatan yang diharapkan saat melakukan investasi yang tidak beresiko.
  Biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital)
Karakteristik biaya modal yaitu:
1. memperhitungkan keadaan di masa depan
2. berfungsi untuk investas
3. berdasarkan pada nilai pasar bukan nilai buku, dinyatakan secara nominal.

Setiap komponen dalam struktur pembiayaan sebuah perusahaan memiliki biaya tertentu, dan komponen biaya-biaya tersebut membentuk biaya modal rata- rata tertimbang atau yang dikenal sebagai weighted average cost of capital (WACC). Komponen biaya modal berdasarkan struktur modal yaitu biaya hutang dan biaya modal sendiri atau biaya ekuitas.
Langkah-langkah untuk menghitung biaya modal rata-rata tertimbang :
 Menentukan bobot masing-masing komponen dalam struktur modal berdasarkan nilai pasar masing-masing komponen
 Mengestimasi biaya ekuitas
 Mengestimasi biaya hutang

Macam-macam bentuk hutang dan biayanya :
 Hutang bank→ tingkat bunga
 Hutang bank dalam mata uang asing → tingkat bunga yang disesuaikan
 Obligasi konversi → kupon + yield
 Saham preferen → yield saham preferen

Pada sektor swasta terdapat 2 sumber pendanaan, yaitu pendanaan modal dan pembiayaa hutang. Keuntungan yang diperoleh kreditor sebagai pemberi utang, berupa pembayaran bunga utang, sedangkan investor memperoleh keuntungan berupa deviden dan gain atas saham yang dimilikinya. Harga pasar saham merefleksikan laba di masa depan yang diharapkan. Pembiayaan hutang memiliki resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan pembiayaan modal sehingga kreditor akan meminta tingkat kembalian yang lebih rendah dibandingkan investor karena resiko investasi berbanding lurus dengan return investasi. Semakin tinggi resiko investasi, maka return yang diharapkan juga semakin tinggi. Disamping itu pembiayaan utang memiliki biaya yang lebih kecil dibandingkan dengan pembiayaan modal. Biaya utang lebih murah dibandingkan dengan biaya modal sendiri karena pembayaran bunga utang merupakan biaya yang mengurangi pajak.
Khususnya untuk hutang bank, umumnya biaya hutang sama dengan tingkat bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Apabila tingkat bunga hutang sangat rendah dibandingkan dengan tingkat bunga hutang yang berlaku di pasar, penilai sebaiknya mempertimbangkan tingkat bunga hutang yang normal pada waktu melakukan penilaian.
Pembiayaan dengan hutang (selain saham preferen) memberikan “tax shield”
bagi perusahaan. Besarnya “tax shield” tersebut sesuai dengan marginal tax rate
dari perusahaan yang bersangkutan.

Penilai harus mempertimbangkan bahwa untuk perusahaan yang masih mengalami rugi sehingga tidak membayar pajak maka perusahaan tersebut tidak menikmati adanya “tax shield”. Biaya modal total dapat dinyatakan dalam bentuk biaya modal rata-rata tertimbang


Berdasarkan asumsi bahwa seluruh biaya dan manfaat suatu proyek telah dinilai cukup, masalah berikutnya yang perlu dipertimbangkan berfokus pada tingkat diskonto yang cocok yang akan digunakan. Biaya dan manfaat terjadi pada titik waktu yang berbeda, sehingga nilai tersebut perlu didiskontokan. Untuk tujuan analisis biaya manfaat, maka perlu digunakan tingkat diskonto sosial.Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menyatakan social discount rate sebagai suatu tingkat yang merefleksikan preferensi masyarakat terhadap manfaat saat ini atas manfaat yang akan diterima dimasa yang akan dating, atau disebut social time preference rate (STPR).
Asumsi dalam pendekatan ini adalah generasi mendatang akan lebih sejahtera daripada generasi sekarang. Oleh karena itu dilakukan pengurangan terhadap kebutuhan benefits yang tersedia.
 Kemungkinan lebih lanjut mencoba menggunakan analisis berdasarkan social opportunity cost rate (SOCR) adalah bahwa sumber daya yang digunakan untuk melakukan investasi disektor public terbatas dan sumber daya itu tidak tersedia untuk digunakan ditempat lain. Disini diasumsikan bahwa investasi di sector swasta (private sector) tidak akan dilakukan, sehingga tingkat kembalian investasi yang dapat dihasilkan disektor swasta merefleksi opportunity cost investasi sector public.
Inflasi
  Penilaian investasi harus memperhitungkan perkiraan tingkat inflasi. Semakin tinggi tingkat inflasi, semakin rendah nilai riil keuntungan dimasa depan yang diharapkan sehingga semakin tinggi tingkat keuntungan yang disyaratkan. Inflasi yang tinggi menyebabkan required rate of return semakin tinggi.

Resiko dan ketidakpastian
  Required rate of return akan semakin tinggi jika resiko investasi naik. Ketidakpastian ekonomi dan hokum, kekacauan sosial-politik, tidak adanya jaminan keamanan, dan kebijakan yang tidak konsisten dapat meningkatkan resiko investasi. Factor-faktor tersebut menyumbang resiko investasi suatu Negara yang jika sudah sangat parah dapat mengarah pada kategori default country. Terjaminnya keamanan berinvestasi, penegakan hukum dan demokrasi, terjaminnya property right dan contract right dapat menurunkan resiko investasi.

Capital Rationing
Capital rationing keadaan ketika organisasi menghadapi masalah ketersediaan dana untuk melakukan pengeluaran investasi. Dalam keadaan seperti ini terdapat beberapa alternatif investasi yang dapat dilakukan akan tetapi tidak tersedia cukup dana untuk membiayai investasi-investasi yang diajukan. Oleh karena itu harus dilakukan perankingan investasi. Perankingan dapat dilakukan dengan menggunakan rasio manfaat/biaya atau dapat juga menggunakan model pemrograman linear

Pada organisasi sektor publik, selain memperhatikan faktor-faktor di atas penilaian investasi publik juga harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Tingkat utang pemerintah
2. Tingkat kesempatan sosial yang dikorbankan (social opportunity cost rate)
3. Social time preference rate

Tingkat utang pemerintah adalah jumlah yang harus dibayarkan pemerintah sehubungan dengan perolehan sumber pembiayaan di luar pajak, seperti utang luar negeri dan obligasi pemerintah yaitu berupa bunga dan pokok utang. Social opportunity cost rate terkait dengan pengertian bahwa proyek pemerintah harus dapat menghasilkan tingkat keuntungan (return) yang minimal sama dengan tingkat keuntungan proyek sektor swasta dengan penggunaan dana yang sama. Atau dengan kata lain, dengan jumlah investasi yang sama, proyek investasi publik yang dilakukan pemerintah harus memiliki kualitas yang minimal sama jika proyek tersebut dilakukan oleh swasta. Sedangkan social time preference rate merefleksikan tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh masyarakat jika menunda saat ini untuk kepentingan konsumsi di masa depan.

E. TEKNIK DASAR PENILAIAN INVESTASI PUBLIK

Pada dasarnya, prinsip penilaian investasi sangat sederhana.Terdapat empat langkah utama untuk mengevaluasi suatu proyek investasi, yaitu:
1. Identifikasi kebutuhan investasi yang mungkin dilakukan
Organisasi sektor publik seringkali dihadapkan pada banyak alternatif investasi untuk mencapai tujuan organisasinya.Oleh karena itu perlu diidentifikasi alternatif-alternatif yang memungkinkan untuk dianalisis lebih lanjut.Keterkaitan antara suatu proyek dengan proyek lain perlu dipertimbangkan untuk mengetahui sejauh mana penerimaan atau penolakan suatu investasi akan mempengaruhi investasi yang lain.
2. Menentukan semua manfaat dan biaya dari proyek yang akan dilaksanakan (cost/benefit relationship).
Perhitungan manfaat dan biaya harus pula memasukkan analisis manfaat dan biaya social (social cost/benefit)yang ditimbulkan dari investasi public yang akan dilakukan.Pada organisasi sektor publik biaya dan manfaat seringkali tidak dapat secara langsung diukur dengan satuan uang., sehingga teknik-teknik analisis biaya manfaat sangat cocok untuk diterapkan.Dalam analisis biaya-manfaat ini, benefit (manfaat) ditekankan pada semua keunggulan ekonomi dan social yang diperoleh, sedangkan untuk cost (biaya) ditekankan pada kelemahan-kelemahan proyek yang dikuantifikasikan dalam bentuk uang.
3. Menghitung manfaat dan biaya dalam rupiah
Langkah kedua adalah menghitung manfaat dan biaya investasi dalam rupiah.Terkadang terdapat kesulitan dalam langkah kedua ini. Kesulitan yang dihadapi adalah apabila biaya dan manfaat dari suatu proyektidak dapat diukur dalam bentuk rupiah,misalnya manfaat dan biaya social.Dalam kondisi tersebut, yang dapat dilakukan adalah menghitung nilai manfaat dari proyek secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan analisis efektivitas biaya (cost-effectiveness analysis).
4. Memilih proyek yang memiliki manfaat terbesar dan effektivitas biaya yang tinggi.
Rasio biaya dan manfaat atau efektivitas biaya merupakan titik awal penentuan penerimaan proyek, ada banyak ketidakpastian yang dapat mempengaruhi perhitungan. Tidak semua biaya dan manfaat social dapat dimasukkan dalam perhitungan,bahkan beberapa di antaranya tidak dapat dipakai dalam pengukuran yang obyektif dalam bentuk moneter.Analisis moneter mungkin mengindikasikan bahwa proyek akan memberikan nilai uang terbaik, tetapi faktor-faktor politik,respon pemerintah,serta tekanan-tekanan social menyebabkan pertimbangan biaya manfaat diperlukan atas proyek tersebut.
Teknik untuk mengevaluasi investasi dibedakan menjadi dua metode,yaitu: (1) metode penilaian invetasi tradisonal, dan (2) metode aliran kas yang didiskontokan (discounted cash flow/DCF).
Metode tradisonal yang sering digunakan adalah tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan (accounting rate of return on capital employed –ROCE) dan payback period (PP).ROCE secara sederhana dirumuskan:
  Laba akuntansi dibagiJumlah modal yang diinvestasikan

Informasi mengenai laba akuntansi diperoleh dari laporan laba/rugi organisasi, sedangkan informasi modal dapat diketahui dari neraca.
Metode penilaian investasi dengan menggunakan discounted cash flow misalnya adalah net present value (NPV) dan internal rate of return (IRR).NPV dihitung dengan cara mendiskontokan aliran kas di masa datang (future cash flow) dengan factor diskonto tertentu yang merefleksikan biaya kesempatan modal (opportunity cost of capital).NPV diperoleh dengan cara mengurangkan pengeluaran investasi awal dengan aliran kas di masa depan yang di-present value-kan. Proyek yang memberikan nilai NPV positif adalah proyek yang memiliki prioritas untuk diterima dan proyek yang nilai NPV-nya negatif adalah proyek yang harus ditolak.
IRR mendiskontokan future cash flow pada tingkat NPV yang bernilai nol.Atau dengan kata lain adalah ukuran yang menyetarakan aliran kas bersih di masa datang (future net cash flow) dengan pengeluaran investasi awal.IRR dinyatakan dalam presentase,proyek yang memiliki nilai IRR yang besar adalah proyek yang potensial untuk diterima.
Untuk menganalisis usulan investasi publik, manajer publik dapat menggunakan alat analisis yang biasa digunakan untuk menilai kelayakan suatu proyek pada sector swasta,misalnya NPV,IRR,payback period,dan sebagainya.

Net Present Value
Didefinisikan sebagai total nilai sekarang (PV) dari deret waktu dari arus kas. Ini adalah metode standar untuk menggunakan nilai waktu uang untuk menilai proyek-proyek jangka panjang. Digunakan untuk penganggaran modal, dan luas di seluruh ekonomi, itu mengukur kelebihan atau kekurangan arus kas, dalam hal nilai sekarang, sekali biaya pembiayaan terpenuhi.


Net Present Benefits (NPB)
Net Present Benefits (Manfaat Bersih Sekarang) merupakan nilai bersih suatu proyek setelah dikurangi seluruh biaya pada satu tahun tertentu dari keuntungan atau manfaat yang diterima pad atahun yang bersangkutan dan didiskontokan dengan tingkat bunga yang berlaku.

Payback Period
 Payback period dirumuskan sebagai berikut:
 
Payback period merupakan teknik analisis investasi yang relatif mudah dan sederhana. Sehingga banyak digunakan. Namun demikian, payback period mengandung kelemahan, yaitu:
1. Metode ini mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau proceeds yang diperoleh setelah payback period tercapai.
2. Metode payback period mengabaikan nilai waktu uang
3. Metode payback period tidak dapat digunakan untuk pengambilan keputusan investasi yang bersifat mutually exclusive.

Analisis Biaya-Manfaat (Cost Benefit Analysis)
Metode cost benefit analysis (CBA) atau benefit cost ratio merupakan cara mengevaluasi suatu proyek dengan membandingkan nilai sekarang (present value) dari seluruh manfaat/keuntungan yang diperoleh dengan nilai sekarang dari seluruh biaya proyek tersebut. Berdasarkan CBA, kriteria keputusan penerimaan proyek didasarkan pada proyek-proyek yang memberikan nilai keuntungan yang lebih besar dari biayanya. Keuntungan dalam analisis biaya-manfaat harus pula memasukkan keuntungan sosial dan biaya sosial. Proyek yang diterima adalah proyek yang memiliki keuntungan sosial yang didiskontokan (discounted value of social benefit) yang lebih besar dari nilai biaya sosial yang didiskontokan (discounted value of social cost).
Analisis Benefit-Cost Ratio dirumuskan sebagai berikut:

  M1 M2 Mn
M = Mo + (1+i) + (1+i) 2+.......+ (1+i)n

  C1 C2 Cn
C = Co + (1+i) + (1+i)2 + .......+(1+i)n

Berdasarkan metode ini, suatu proyek akan dilaksanakan bila (M/C) > 1. Metode ini akan memberikan hasil yang konsisten dengan metode net present benefit apabila B/C > 1 berarti pula B-C lebih besar dari nol.


Benefit/cost ratio dapat juga dirumuskan sebagai berikut:

  Gross Present Value
Benefit/Cost Ratio = Investasi

Kelemahan metode B-C ratio adalah tidak adanya pedoman yang jelas mengenai hal-hal yang masuk sebagai perhitungan biaya dan manfaat. Di satu sisi dapat dimasukkan sebagai biaya, namun di sisi lain dapat masuk sebagai manfaat, sehingga kemungkinan terjadi manipulasi besar. Secara umum, kelemahan ini disebabkan karena adanya kesulitan dalam penghitungan manfaat dan biaya. Biaya diangap sebagai manfaat negatif. Dengan demikian B-C ratio dapat berpeluang memberikan hasil yang keliru dalam menentukan proyek.

Keputusan mengenai aktivitas investasi dalam private sector ditekankan dengan menilai apakah pemilik perusahaan akan menjadi lebih baik dengan melakukan investasi tersebut. Sementara itu, keputusan investasi dalam organisasi sektor publik lebih difokuskan pada penilaian apakah masyarakat secara keseluruhan akan menjadi lebih baik dengan adanya investasi tersebut. Analisis biaya-manfaat dikembangkan sebagai alat untuk membangun kriteria-kriteria terhadap penilaian investasi sektor publlik, termasuk disini manfaat sosial bersih yang diperoleh dari investasi.

Untuk menentukan manfaat sosial bersih ini tidak hanya diperhitungkan manfaat yang tangible melainkan juga manfaat yang intangible, seperti: bebas dari polusi, hidup dengan lingkungan yang aman, penghematan waktu dan lain sebagainya. Demikian halnya ketika perhatian diiarahkan pada pengukuran biaya, beberapa item yang bersifat intangible seperti kerusakan lingkungan harus diperhitungkan.

Dixon menerangkan bahwa terdapat tiga langkah dalam melakukan analisis biaya-manfaat, yaitu:
1. Memutuskan biaya dan manfaat apa saja yang dimasukkan.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan terjadinya double accounting, yaitu suatu manfaat atau biaya yang menyebabkan manfaat atau biaya yang lain dimasukkan secara bersama-sama.
2. Mengukur dan mengevaluasi biaya dan manfaat.
Manfaat dan biaya yang berwujud lebih mudah untuk dihitung, akan tetapi yang bersifat tidak berwujud relatif sulit untuk dihitung.
3. Timing dan aliran biaya dan manfaat.
Tahap ketiga terkait dengan masalah waktu pengakuan biaya atau manfaat yang terjadi. Biasanya nilai yang tertinggi dimasukkan dalam biaya atau manfaat yang terjadi lebih awal. Untuk menyelesaikan nilai biaya dan manfaat yang berbeda karena waktu, maka digunakan tingkat diskonto.

Analisis Efektifitas Biaya
1) Teknik Analisis biaya dan manfaat
Pengembangan suatu sistem informasi merupakan suatu investasi seperti halnya investasi proyek lainnya. Investasi berarti dikeluarkannya sumber-sumber daya untuk mendapatkan manfaat dimasa mendatang. Investasi untuk mengembangkan sistem informasi juga membutuhkan sumber-sumber daya. Sebagai hasilnya, sistem informasi akan memberikan manfaat-manfaat yang dapat berupa penghematan-penghematan atau manfaat-manfaat yang baru. Jika manfaat yang diharapkan lebih kecil dari sumber-sumber daya yang dikeluarkan, maka sistem informasi ini dikatakan tidak bernilai atau tidak layak. Oleh karena itu, sebelum sistem informasi dikembangkan, maka perlu dihitung kelayakan ekonomisnya. Teknik untuk menilai ini disebut dengan analisis biaya/keuntungan (cost/benefit analysis).Analisis biaya/keuntungan disebut juga dengan analisis biaya/efektivitas (cost/ effectivenss analysis). Keuntungan dari pengembangan sistem informasi tidak semuanya mudah diukur secara langsung dengan nilai uang, seperti misalnya keuntungan pelayanan kepada langganan yang lebih baik. Keuntungan yang sulit diukur langsung dengan nilai uang ini selanjutnya jika ingin ditentukan dalam
bentuk nilai uang, maka dapat menaksir efektivitasnya.

 Langkah-langkah dalam melakukan analisis efektifitas biaya adalah sebagai berikut :
1. Menentukan jumlah dan waktu atas semua biaya modal. Hal tersebut meliputi pula penetuan biaya bangunan, peralatan, dan tanah. Hal ini penting karena sumber daya yang diprlukan oleh sebuah proyek harus dinilai pada opportunity cost penuhnya. Dengan demikian, jika organisasi menggunakan tanahnya sendiri yang mana sebuah bangunan akan didirikan di atasnya, maka biaya yang dipakai harus dinilai berdasarkan harga pasar pada saat itu (current market value)
2. Membuat estimasi biaya yang akan terjadi (running cost) selama umur yang diharapkan dari suatu proyek.
3. Membuat estimas output terukur selama umur yang diharapkan dari suatu proyek.
4. Membuat estimasi pengaruh biaya dan pendapatan atas aktivitas yang dilakukan.
5. Mendiskontokan biaya dan manfaat yang dapat diukur untuk memungkinkan melakukan perbandingan. Prosedur yang biasa dipakai adalah menghitung nilai sekarang (present value) tetapi proyek-proyekyang memiliki umur yang berbeda mungkin lebih tepat dibandingkan dengan menggunakan biaya tahunan ekuivalen (equivalent annual cost)
6. Menjelaskan secara realistis mengenai kemungkinan adanya biaya-biaya dan manfaat yang tidak dapat dikuantifikasi yang akan muncul dari proyek yang akan dijalankan.


2) Komponen biaya
Untuk melakukan analisis biaya/efektivitas diperlukan dua komponen, yaitu komponen biaya dan komponan efektivitas. Biaya yang berhubungan dengan pengembangan sistem informasi dapat diklasifikasikan ke dalam 4 kategori utama, yaitu :
a. Biaya pengadaan (procurement cost).
b. Biaya persiapan operasi (start-up cost).
c. Biaya proyek (project-related cost).
d. Biaya operasi (on going cost) dan biaya perawatan (maintenance cost).

Dalam praktiknya, terdapat beberapa kesulitan dalam melakukan analisis efektiftas biaya. Kesulitan tersebut terjadi pada waktu membuat estimasi atau perkiraan mengenai waktu dan besarnya jumlah biaya dan manfaat di masa datng. Kesulitan juga dialami pada saat pemilihan tingkat diskonto (discount rate) yang tepat atau penyesuaian untuk tingkat risiko dan ketidakpastian. Sebagai gambaran dalam seksi pendahuluan pada analisa cost benefit. Namun demikian, mekanisme pendiskontoan pada dasarnya tidak berbeda dari yang biasa diterapkan pada sector swasta.

DAFTAR PUSTAKA

 HM, Jogiyanto, Analysis dan Disain Sistem Informasi (Pendekatan terstruktur), Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 1995.

Davis S., David, System Analysis and Design A Structured Approach,Massachusette : Addison-Wesley, 1983, Module H.

 Mardiasmo,2002.Akuntansi Sektor Publik,Yogyakarta : penerbit ANDI

http://www.bppk.depkeu.go.id/index.php/view-document/14-bab-8.html?format=raw&tmpl=component(investasidiskonto)


http://74.125.153.132/search?q=cache:PYzwAvRtiEsJ:digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/eakt/2006/jiunkpe-ns-s1-2006-32401008-6408-lippo_karawaci-chapter2.pdf+contoh+tingkat+diskonto+yang+mempengaruhi+investasi+publik&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a(diskonto)

http://74.125.153.132/search?q=cache:075OhwJowV8J:www.indef.or.id/xplod/upload/pubs/Kajian%2520Tengah%2520Tahunan%2520Ekonomi%2520dan%2520Bisnis%25202002.PDF+contoh+tingkat+diskonto+yang+mempengaruhi+investasi+publik&cd=18&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a(diskonto2).

http://id.wikipedia.org/wiki/anggaran_sektor_publik#anggaran_modal.2Finvestasi

http://jagatpikir.wordpress.com/2007/07/06/investasi-domestik-soalnya/

http://www.toodoc.com/analisis-investasiword.htmlpdfdatabase.com/index.php?q=investasi+sektor+publik

http://www.bppk.depkeu.go.id/...publik...sektor-publik/akuntansi-sektor-publik.html

http://www.friendster.com/reptuz

http://id.wikipedia.org/wiki/Investasi#Pengertian


0 komentar:

Poskan Komentar